Archive for the ‘Uncategorized’ Category

h1

PENANDATANGANAN MOU PROPINSI VOKASI

April 11, 2008

Menurut rencana besuk Sabtu, 12 April 2008 bertempat Hotel Lor Inn Solo Mendiknas Bambang Sudibyo akan mencanangkan JAWA TENGAH SEBAGAI PROPINSI VOKASI. Pada kegiatan yang dihadiri oleh Gubernur Jateng, semua Bupati /walikota dan kepala Dinas Pendidikan se Jateng tersebut itu selain akan disampaikan blue print propinsi vokasi juga akan ditandatangani MOU antara Mendiknas, Gubernur Jateng dan Bupati/Walikota untuk mendukung percepatan pencapaian prosentase jumlah siswa SMK (60%) : SMA (40%) melalui program di Kabupaten/Kota masing-masing.

h1

Aspek Moral Dalam Ujian Nasional

April 3, 2008

Harus diakui bahwa menghadapi pelaksanaan Ujian Nasional yang persyaratan lulusnya makin meningkat menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak. Siswa jelas khawatir jangan-jangan dia tidak lulus, pasti kena marah orang tua dan malu dihadapan teman. Orang tua khawatir anaknya tidak lulus, artinya sudah kehilangan sekian juta rupiah dan harga diri sebagai orang tua. Guru khawatir dianggap tidak profesional karena siswanya banyak yang tak lulus. Kepala sekolah pun tentu sangat khawatir karena bisa dianggap tidak bisa memimpin sekolahnya. Bahkan kepala Dinas dan Bupati/walikota sampai menteripun khawatir terhadap kelulusan ujian nasional.
Baca selanjutnya :lihat http://utomokdl.blogspot.com/

h1

Milad ke 19, SMA Muhamadiyah 4 Kendal, ajang promosi dan Unjuk Kekuatan Sekolah

Maret 29, 2008

Assalamualaikum wr. wb.
Dalam rangka memperingati HUT (Milad) SMA Muhammadiyah 4 Kendal yang ke-19, SMA akan mengadakan berbagai lomba yang memperebutkan berbagai tropi dan hadiah.
Lomba-lomba yang digelar diantaranya adalah :

I. Lomba Untuk Siswa SMP se- Kabupaten Kendal
1. Lomba Kepanduan SMP
2. Lomba Desain Mading Berbasis TI untuk SMP
3. Lomba Writing English untuk SMP
4. Lomba Band antar Sekolah

II. Lomba Untuk Siswa SMA Muhammadiyah 4 Kendal
1. Lomba Yel-yel antar Kelas
2. Lomba Kebersihan (K3)
3. Lomba Tumpeng Antar Kelas

Read the rest of this entry ?

h1

UNDANGAN RAPAT TERBATAS

Maret 21, 2008

Dimohon kehadirannya Bapak/Ibu Kepala SMA “
1. SMA 1 KENDAL
2. SMA 2 KENDAL
3. SMA 1 CEPIRING
4. SMA 1 BOJA
5. SMA 1 KALIWUNGU
6. SMA 1 SUKOREJO
7. SMA 2 SUKOREJO
8. SMA 1 GEMUH
9. SMA PMS
10. SMA PGRI 01 KENDAL
11. SMA MUH 1 WELERI
12. SMA MUH 3 KALIWUNGU
13. SMA MUALIMIN WELERI
Besuk pada hari : SENIN, 24 Maret 2008 Pk. 1o.00 WIB di R.Sidang Dinas Dikpora

h1

PELATIHAN PEMBUATAN TES ONLINE

Maret 18, 2008

Hari ini Rabu, 19 Maret 2008 SMA 1 Kendal akan melaksanakan pelatihan pembuatan Tes Online untuk guru. Pelatihan dilaksanakan di Laboratorium Internet SMA 1 Kendal dengan Instruktur Bp. Masrukin dari Tim Pengembang kurikulum Dinas Pendidikan dan guru SMK N 2 Kendal.
Diharapkan malalui pelatihan ini guru SMA 1 sebagai sekolah calon sekolah Rintisan SBI dapat menguasai penggunaan tes online dalam pembelajaran.

h1

MARI BERGABUNG DI PUSTAKA MAYA DIKPORA

Maret 18, 2008

Mohon partisipasi anda semua untuk menjadi kontributor materi pada PUSTAKA MAYA yang sedang kami bangun. Caranya kunjungi Pustakamaya dinas Dikpora dengan klik PUSTAKA MAYA yang ada pada jipkendal.

h1

KIAT MENGATASI KEGAGALAN SERTIFIKASI GURU

Maret 11, 2008

Peran Aktif Kepala Sekolah

Proses sertifikasi guru telah berlangsung selama dua tahun, yaitu tahun 2006 dan tahun 2007. Presentase kelulusan uji sertifikasi tahun 2007 lebih kecil dibandingkan dengan presentase kelulusan tahun 2006.
Banyak pihak beralasan, kegagalan guru dalam uji sertifikasi tahun 2006 disebabkan karena uji sertifikasi ini merupakan sesuatu yang baru, dan sosialisasi sertifikasi dianggap masih kurang merata. Alasan ini tak dapat lagi digunakan pada tahun 2007. Maka, munculah alasan lain-lain. Misalnya seperti alasan ekonomi, yakni guru dianggap terlalu sibuk mencari tambahan penghasilan, sehingga tak sempat lagi melakukan kegiatan lain yang dibutuhkan dalam penyusunan portofolio untuk proses sertifikasi.

Banyak alasan kegagalan uji sertifikasi guru yang bisa dicari, tetapi apapun alasan yang dikemukakan, tanpa adanya kemauan untuk melakukan tindakan perbaikan, tak akan ada artinya.
Ada kejadian menarik pada sertifikasi tahun 2007, yaitu pada pengisian kekurangan kuota sertifikasi guru. Pengisian kekurangan kuota ini menimbulkan kecurigaan beberapa kalangan, bahwa telah terjadi jual beli tiket sertifikasi. Kecurigaan ini muncul karena kekurangan kuota ini banyak diisi oleh kepala sekolah, dan tidak sampainya informasi ini pada guru. Alasan yang dikemukakan, mengapa hal ini terjadi, adalah sempitnya waktu untuk mengumpulkan bahan-bahan sertifikasi.

Ada dua pelajaran yang dapat dipetik dari pengisian kekurangan kuota sertifikasi guru tersebut. Pertama, adanya kepala sekolah yang belum mempersiapkan guru untuk mengikuti uji sertifikasi sewaktu-waktu ada permintaan. Kedua, walaupun terjadi penyimpangan terhadap kriteria penetapan peserta uji sertifikasi, yaitu prioritas utama peserta adalah masa kerja mengajar, tetapi kelulusan peserta uji sertifikasi tambahan ini lebih terjamin.

Dua pelajaran di atas menimbulkan gagasan penulis tentang kiat mengatasi kegagalan guru dalam mengikuti uji sertifikasi. Kepala sekolah, khususnya yang telah lulus uji sertifikasi, agar memfasilitasi guru dalam mengisi dan melengkapi borang sertifikasi. Banyak hal dalam sertifikasi yang membutuhkan peran aktif kepala sekolah. Salah satu contohnya adalah penilaian tentang RPP. Jika pada setiap akhir pembelajaran, RPP dan pelaksanaannya selalu diberikan penilaian oleh kepala sekolah, maka guru tak perlu lagi kerepotan dalam mengisi borang sertifikasi yang berkaitan dengan RPP. Di samping itu, guru akan dapat memilih lima RPP terbaik, berdasarkan penilaian yang telah diberikan kepala sekolah.

Yang tak kalah pentingnya adalah kemauan kepala sekolah untuk berperan aktif membantu memprediksi nilai sertifikasi guru. Walaupun prediksi nilai kepala sekolah mungkin tak sama dengan nilai dari penilai sertifikasi sebenarnya, ini cukup membantu mengurangi tingkat kegagalan uji sertifikasi guru yang bersangkutan. Bahkan jika memungkinkan, secara internal kepala sekolah dapat membentuk tim penilai sertifikasi guru. Tugas tim internal ini adalah menilai sertifikasi guru di luar penilaian yang bersifat rahasia. Dengan adanya tim ini di sekolah, kepala sekolah akan mengetahui dengan tepat guru-guru yang telah siap mengikuti sertifikasi. Bahkan lebih jauh, kepala sekolah dapat menilai kinerja masing-masing guru di sekolahnya.

Kompromi antar Guru agar diperlakukan adil

Walaupun prioritas utama kriteria peserta uji sertifikasi guru adalah masa kerja atau pengalaman mengajar, kita tak boleh melupakan makna sertifikasi itu sendiri, yaitu guru yang sudah lulus uji sertifikasi berarti guru itu telah diakui kapasitasnya sebagai guru.

Tentu tidak semua guru yang masa kerjanya lebih lama mempunyai kapasitas yang memadai sebagai guru, atau sebaliknya. Itulah sebabnya pemerintah menetapkan kriteria kelulusan pada uji sertifikasi guru. Tidak adil kiranya, jika penetapan peserta semata-mata diutamakan pada lama masa kerja tanpa melihat prestasi kerja, sebagaimana tidak adilnya jika penetapan peserta semata-mata diutamakan pada prestasi kerja tanpa melihat masa kerja.

Ada jalan kompromi yang dapat ditempuh agar semua guru merasa diperlakukan adil tanpa mengesampingkan tujuan sertifikasi dan kriteria penetapan peserta sertifikasi. Jalan kompromi tersebut adalah kepala sekolah memberikan kesempatan pada semua guru untuk mengisi borang sertifikasi dan kemudian menilai isian borang tersebut. Dari penilaian tersebut, kepala sekolah dapat menetapkan guru-guru yang diperkirakan akan lulus uji sertifikasi sekaligus menetapkan urutan peserta uji sertifikasi dari sekolahnya dengan memprioritaskan guru yang mempunyai masa kerja lebih lama.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan agar uji sertifikasi berjalan sukses, dalam arti tingkat kelulusannya tinggi, maka dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
Kepala sekolah membuat tim internal penilai borang uji sertifikasi guru
Kepala sekolah meminta semua guru untuk mengisi borang uji sertifikasi guru
Tim penilai uji sertifikasi sekolah memberikan penilaian borang sertifikasi yang telah disusun guru
Tim penilai uji sertifikasi sekolah bersama-sama kepala sekolah menetapkan guru-guru yang berpeluang lulus uji sertifikasi

Kepala sekolah menetapkan urutan guru yang akan diikutkan uji sertifikasi berdasarkan masa kerja guru yang berpeluang lulus uji sertifikasi.
Jika kelima hal di atas dilakukan, maka kita optimistis tingkat kelulusan peserta uji sertifikasi akan meningkat, bahkan tidak menutup kemungkinan semua peserta akan lulus uji sertifikasi guru, sehingga tidak lagi timbul anggapan bahwa guru di perkotaan lebih buruk dari guru daerah.

sumber : http://www.klubguru.com/