h1

Pondok maos "guyub" Boja

Maret 3, 2008

“Kulo nuwun.”
“Permisi.”
“Bisa Masuk?”

Tiga ucapan di atas dari anak-anak dan warga desa itu lazim dipakai sebagai bentuk sopan santun memasuki rumah orang. Akan tetapi dalam waktu dua minggu saja, ketiga ucapan pembuka masuk rumah orang itu sudah luntur alias tidak kedengaran lagi. Apakah warga desa sudah punya cara lain berucap dikala masuk rumah orang? Atau bentuk sopan santun khas desa itu sudah ditinggalkan?

Ada apa dengan perubahan itu?

Ternyata warga desa itu memasuki sebuah rumah keluarga yang baru saja membuka ruangan tamunya sebagai perpustakaan kecil. Ruangan tamu dan kamar depan disulap sedemikian rupa, sehingga hanya ada karpet hijau dan rak kayu menempel melingkari tembok. Fasilitas buku yang tersedia meliputi: 550 komik, 300 buku bahasa Indonesia bertema; sastra, agama, pertanian, pertukangan, perikanan, dan keluarga, 250 novel bahasa Inggris serta beberapa majalah sastra dan sosial. Hartono, pengelola perpustakaan yang bernama Pondok Maos GUYUB menuturkan, ”Awalnya anak-anak dan warga desa, kalau pertama kali akan masuk rumah sini, selalu mengucapkan `Kulo Nuwun, Permisi, atau Bisa Masuk?` Tapi sejak pada minggu kedua dibuka Pondok Maos ini, mereka datang sudah tanpa basa-basi lagi.” Perubahan basa-basi warga desa mendapat pengamatan oleh Hartono. Dia sadar rumah itu sudah menjadi tempat umum. Pertimbangannya sangat humanis, “Daripada ruang tamu kosong dan tidak pernah dipakai, lebih baik untuk kepentingan umum.” Dia tambahkan, “Bahkan kalau dia dan keluarganya duduk-duduk di karpet, warga desa langsung saja memilih buku di rak, tanpa memperhatikan kami.”

Hartono beserta keluarganya merasa senang dan bangga, ternyata minat baca orang desa tinggi. Temuan Hartono ini bisa menggugurkan pandangan umum, yang sering bilang, minat baca orang kita rendah. Setidaknya di lingkungan desa Bebengan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa-Tengah, sebagai bukti nyata atas tingginya minat baca. Menurut Hartono, yang juga seniman musik dan pahat, bahwa Pondok Maos GUYUB sudah didirikan sejak September 2006, akan tetapi baru dibuka secara resmi mulai 27 Februari 2007. Peresmiannya tergolong unik, bukan pejabat daerah yang hadir, melainkan tetangga-tetangga dalam kelompok tahlilan. Sejak 27 Februari sampai 2 Juni, sekitar tiga bulan sudah ada peminjam buku sebanyak 1000 orang. Data terakhir hingga sekarang 23 Juni 2007 peminjam sudah mencapai sekitar 2500 orang yang terdiri atas 50-an desa.

Cara meminjamnya pun tidak berbelit-belit layaknya perpustakaan milik pemerintah. Calon peminjam cukup menyebutkan nama dan alamat. Masa peminjaman selama satu minggu untuk satu buku. Peminjam tidak dikenakan biaya apapun alias gratis. Lagi pula tidak ada kartu anggota atau uang jaminan. Semua dilakukan secara saling percaya dan mencoba menumbuhkan kesadaran antarsesama. Hartono bangga, karena mereka jujur-jujur, apa mungkin karena tempatnya di desa? Meskipun demikian, tiap buku disisipi secarik kertas berupa himbauan dengan bunyi: Mari kita belajar Kejujuran, Tanggung Jawab, Disiplin, dan Tepat Waktu. Kembalikanlah buku sesuai waktu pengembaliannya.

Insiden Kecil

Suatu hari ada seorang ibu guru SD melaporkan, bahwa saat dia mengajar ada seorang murid yang tidak mendengarkan. Murid itu tidak tidur, melainkan suntuk membaca di bawah bangku. Ketika guru itu memergoki, baru ketahuan, murid itu sedang membaca komik. Ujung-ujungya diketahui, kalau komik itu dipinjam dari Pondok Maos GUYUB. Gurunya cukup bijaksana, hanya memberitahu, agar membaca komiknya saat istirahat atau di rumah. Insiden kecil ini sesungguhnya mengundang dua pertanyaan: Antara sajian di komik lebih memikat atau pelajaran saat itu yang membosankan. Benar, adanya banyak anak-anak sekolah, terutama ketika menjelang magrib masih berkalung sarung dan peci, duduk di teras membaca komik. Sebelum ke masjid atau musala dia ke GUYUB dulu.

Temu Pembaca-Penulis

Suatu hari Pondok Maos GUYUB kedatangan tiga tamu. Dua orang penulis asal Jogjakarta, Ugie Sugiarto dan Anton Septian serta Shiho, mahasiswa Jepang jurusan Ilmu Budaya di UGM yang sedang mengadakan penelitian tentang komunitas sastra. Kontan saja, Pondok Maos yang baru berumur jagung bersemangat, walau belum ada aktivis pembacanya. Ketiga orang dari Jogja itu datang dengan bus umum dan sepeda motor ke Kendal yang berjarak sekitar 150 km. Para peminjam buku yang rata-rata siswa SMA segera memenuhi ruangan ditambah anak-anak SD dan SMP. Langsung saja, kedua penulis memaparkan kisahnya, bagaimana sebuah gagasan menjadi tulisan dan dari tulisan menjadi buku. Seluk-beluk mengirim ke penerbit maupun mengirim naskah ke media, menjadi sorotan khusus. Tampak hadirin antusias, sebab ya baru kali itu ada penulis datang jarak jauh dan bertemu pembaca di desa. Desa yang bisa ditempuh dari kota Semarang sekitar 30 km. Kemudian giliran Shiho merekam tanya jawab dengan pembaca. Mereka ditanya dua hal oleh Shiho, “Siapa penulis kesukaan dan judul bukunya apa?” Dan “Apa kenikmatan membaca buku sastra?” Sebagian siswa menjawab, penulisnya: Tohari, judulnya: Ronggeng Dukuh Paruk. Dan ketika ditanya, kenapa? Mereka menjawab, “Gurunya yang memberitahu.” Lain siswa, lain pula warga biasa. Hatta adalah pembaca yang kemaruk di Pondok Maos. Ketika dia ditanya, imam musala ini menjawab, “Bahwa membaca tergantung keperluan, kalau butuh pendalaman agama, ya baca buku agama, kalau ingin menanam tomat, ya baca buku tentang tomat.” Sebagai penutupan Shiho dicecar balik, oleh hadirin, misalnya: “Kenapa orang Jepang suka komik?” Menurut Shiho, memang di Jepang komik sebagai bacaan yang mentradisi sejak anak-anak. Usai acara Hatta, pendatang asal Banyuwangi itu mengungkapkan atas kenyamanannya bisa bertemu penulis dan berdiskusi bebas. Dia gambarkan, ibarat batu baterai, kena charge baru lagi.

Komentar via SMS

Pada rak buku tersebut setidaknya ada 18 buku sastra yang nomor HP penulisnya dicatat pihak Pondok Maos. Dengan harapan, manakala pembaca sudah khatam bacanya, maka mereka bisa bertanya pada pengelolanya, untuk mencatat nomor HP penulisnya. Dengan begitu akan ada interaksi antarpembaca-penulis. Salah satu pembaca bernama Bety, siswa SMA Boja telah membaca kumpulan cerpen “Burung Kolibri Merah Dadu” dari cerpenis Kurnia Efendi di Jakarta. Maka tak lama kemudian, Bety melayangkan komentar via SMS atas hasil bacaannya. Rupanya kecanggihan alat elektronika bisa dimanfaatkan pada bidang-bidang yang memang cukup penting.

Tamu Datang Membawa 100 Buku

Plang putih bertuliskan Pondok Maos GUYUB, Jalan Raya Bebengan No:221 Boja, Kendal telah mengusik orang lewat. Kalau yang lewat orang yang tidak suka bacaan, ya tak dihiraukan. Namun suatu saat yang lewat ini penyuka bacaan. Seorang dari kota Semarang mungkin sedang refreshing, karena daerah ini cukup sejuk dan asri. Tamu tersebut datang bersama anak dan istri. Menurut pengelola, Hartono, mereka tertarik dan simpatik atas usaha kecil-kecilan itu. Apalagi cara mengontrol buku yang dipinjam, cukup dengan himbauan dalam proses penyadaran. Entah bagaimana selanjutnya, tamu tadi berjanji akan menyumbang sebanyak 100 buku ke Pondok Maos GUYUB. Minggu depan rencana buku itu akan segera dihibahkan. Hartono tentu kaget, ada orang datang bukan akan pinjam, justru akan memberi buku. (Sigit Susanto)

2 komentar

  1. Sebagai penghobi membaca saya benar2 tertarik dan bangga atas usaha ini karena buku adalah gudangnya ilmu dan informasi saya juga pny koleksi buku yang lmyn byk mg2 suatu saat nanti bisa jg saya sumbangkan rmh saya di desa karangsari kec. kendal dan saya lagi tertarik untuk beli sepetak tanah di boja klu ada info dg sng hati saya terima (fatoni hp 085656069618)


  2. Walah, aku setiap hari lewat Boja kok belum pernah ketemu ya pak ama Pondok GM nya itu? Alamate kurang jelas sih😀



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: