h1

GURU/DOSEN PNS: GAJI FULLTIMER KERJA PART-TIMER

Februari 7, 2008

Salah satu masalah terbesar dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia adalah masalah profesionalisme guru. Statistik tentang kelayakan guru mengajar sangat mencemaskan. Dari kualifikasinya saja sebagian besar guru-guru kita tidak layak mengajar. Itulah sebabnya pemerintah berusaha keras untuk meningkatkan kualifikasi mengajar mereka dengan anggaran pendidikan 20% tersebut.Tapi itu baru sebagian dari masalah. Ada masalah yang juga sama besarnya tapi belum pernah dipikirkan solusinya secara sungguh-sungguh, praktek guru yang digaji fulltimer tapi bekerja parttimer. Selagi pandangan umum menyatakan bahwa profesi guru atau dosen adalah profesi yang paling sedikit penghargaannya dan paling kecil gajinya, banyak fakta yang menunjukkan bahwa jika dihitung-hitung sebenarnya guru di Indonesia justru dibayar terlalu tinggi karena jam kerjanya yang terlalu sedikit. Tak percaya?
Cobalah masuk ke sekolah-sekolah publik kita dan tanyakan berapa hari seorang guru bekerja dan Anda akan menemui kenyataan bahwa guru tidak datang ke sekolah setiap hari sebagaimana profesi lain. Mereka hanya datang jika ada jam mengajar dan itu bisa berarti kadang-kadang hanya 2 atau 3 hari dalam seminggu. Kalau pun mereka datang mereka juga tidak ‘fulltime’ mulai jam 8 sampai jam 4 sore seperti profesi lain, melainkan hanya pada saat mengajar saja. Dan itu bisa berarti beberapa jam saja.Saya punya teman guru yang kebetulan jam mengajarnya hanya sedikit, 12 jam seminggu (ada yang lebih sedikit dari itu). Jangan berpikiran bahwa 12 jam itu 12 x 60 menit, tidak. 12 jam tersebut adalah 12 jampelajaran dan 1 JP adalah 45 atau 40 menit saja. Jadi kalau 12 JP sama dengan 12 X ¾ jam = 8 jam. Dan ia benar-benar hanya datang ketika ada jam mengajar saja yang sudah diatur agar bisa cukup dua hari saja dalam semingu. Selebihnya ia menjadi ‘ronin’ dengan mengajar dimana-mana.Jadi meski resminya ia adalah guru PNS di sekolah dimana ia ditugaskan tapi ia justru lebih banyak di luar sekolah pada jam-jam kerja. Enak kan! Ia adalah guru tetap yang ‘tidak tetap’! Guru yang dibayar olehnegara sebagai pekerja penuh waktu yang bekerja hanya paruh waktu. Tapi ia tidak sendirian. Saudara saya yang menjadi dosen di PTN ternyata lebih banyak nongkrong di rumah ketimbang di kampusnya. Alasannya sama, ia hanya wajib datang pada saat tugas mengajarnya yang ternyata hanya dua hari dalam seminggu.
Berdasarkan pemantauan saya ke berbagai daerah, praktek datang hanya pada jam mengajar ini ternyata merupakan praktek yang umum di mana-mana. Tak ada satupun sekolah menengah yang saya kunjungimenerapkan jam kerja 40 jam seminggu sebagaimana yang diamanatkan dalam peraturan jam kerja PNS. Alasannya? Karena sudah merupakan ‘konvensi’. Praktek tersebut di’legal’kan karena alasan gaji guru/dosen kecil sehingga guru dan dosen ‘berhak’ dan diberi kesempatan oleh pemerintah untuk ‘moonlighting’ alias nyambi. Dan ini praktek yang dilakukan secara ‘nasional’ lho! Rasa-rasanya hanya di Indonesia guru PNS diperbolehkan untuk ‘moonlighting’. Tak ada praktek semacam ini terjadi di berbagai negara lain yang pernah saya kunjungi. Setiap guru sekolah hanya mengabdi pada satu sekolah secara penuh waktu. Berapa gaji teman saya sebagai PNS? Ia bilang bahwa gajinya sebagai PNSitu kecil dan ia hanya terima sekitar 2 juta sebulan. Tapi kalau melihat kecilnya jam kerjanya maka sebetulnya gaji 2 juta tersebut terlalu tinggi. Seorang guru baru di Malaysia memperoleh gaji sekitar4,5 juta jika kita kurskan ke rupiah. Para guru yang saya beritahu selalu berkomentar bahwa gaji guru Malaysia jauh lebih tinggi daripada mereka. Tapi ada fakta lain yang tidak mereka ketahui, Para guru diMalaysia harus bekerja 40 jam seminggu. Benar-benar 40 jam seminggu mulai jam 8 pagi sampai dengan jam 4 sore. Persis seperti karyawan perusahaan lainnya. Jadi kalau dibandingkan sebenarnya gaji guru diIndonesia jauh lebih tinggi ketimbang gaji guru di Malaysia. Gajinya memang tidak sampai 1/2 dari gaji guru Malaysia tapi jam kerjanya hanya 1/5. Hanya kepala sekolah atau pejabat struktural kampus yang datang setiap hari. Lainnya menikmati praktek ‘gaji fulltimer kerja parttimer’ ini. Enak kan! Guru-guru di Malaysia dan Singapura yang saya beritahu tentang praktek ‘moonlighting’ di Indonesia ini merasa heran dan tak habis pikir bagaimana praktek semacam ini bisa dilakukan dalam skala nasional. Kalau Anda mengira mereka akan berkomentar, :”Enak ya guru di Indonesia karena jam kerjanya sedikit.” Anda akan kecewa karena komentar mereka justru “Bagaimana sekolah nak berkualiti bila cik gu tak turun setiap hari? Siapa yang urus tu budak-budak?” demikian komentarnya.
Guru yang paling banyak jam kerjanya ternyata adalah guru SD. Mereka harus datang setiap hari karena sebagian besar dari mereka adalah guru kelas (meski di banyak sekolah sudah mulai menerapkan guru bidang studi sehingga praktek ‘moonlighting’ ini juga sudah masuk ke guru SD juga).Dengan menjadi guru kelas mereka tidak mungkin tidak hadir tiap hari. “Siapa yang urus tu budak-budak?”.Meski demikian jam kerja guru SD yang paling maksimal pun sebenarnya masih di bawah ketentuan kewajibannya. Rata-rata jam belajar SD hanya 5 – 6 jam sehari dan pada hari Jum’at lebih sedikit lagi. Para guru juga mendapat ‘cuti’ atau liburan yang jauh lebih banyak ketimbang PNS atau karyawan swasta lainnya. Dalam bulan puasa seperti ini libur sekolah bisa mencapai 40 hari! Itu belum lagi libur semester dan kenaikan kelas. Setiap kali siswa libur mereka juga libur. Kan sekolah tutup! Paling juga ada kerja piket beberapa hari.
Tapi bukankah tugas guru bukan hanya mengajar? Guru kan juga membuat persiapan, memeriksa pekerjaan rumah siswa, membuat laporan, ikut MGMP, dll…dll.. Itu semua harus dihitung dong!Alasan yang bagus. Sayang sekali bahwa praktek itu cuma teori saja. Sangat jarang ada guru yang membuat persiapan mengajar dan hanya guru-guru di sekolah swasta yang bagus saja yang menekankan pentingnya persiapan bagi guru sebelum masuk kelas. Guru-guru di sekolah publik kita rata-rata tidak membuat persiapan, tidak memberikan tugas PR secara rutin (sehingga tidak ada yang perlu diperiksa kan?), tidak membuat laporan secara rutin, dan juga tidak mengikuti kegiatan MGMP secara rutin (lha wong kegiatannya sendiri nggak ada kok dan yang ada cuma kongkow-kngkow!).
Seorang teman yang mengajar di sekolah swasta prestisius dengan gaji yang cukup ternyata masih tertarik untuk menjadi guru PNS. Apa alasannya? Banyaknya waktu luang yang dimiliki oleh guru PNS! Dengan waktu luang tersebut ia merasa yakin dapat melakukan lebih banyak bagi perkembangan profesinya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan pendidikan di luar sekolah. Ini idealisme dalam bentuk lain memang tapi ini menunjukkan bahwa dengan menjadi guru PNS, walaupun gajinya lebih rendah, jam kerjanya lebih sedikit dan tuntutan profesionalismenya sangat rendah. Meski semua guru yang saya kenal mengakui adanya praktek ini dan tahu bahwa ini sebenarnya bertentangan dengan peraturan kepegawaian dimana mereka wajib bekerja di sekolah selama 40 jam/minggu, mereka tetap merasa bahwa praktek tersebut adalah wajar karena gaji guru itu kecil dan mereka tidak bisa hidup dengan hanya mengajar di satu sekolah. Lagipula kalau mereka tidak mengajar di sekolah swasta maka akan tidak akan ada guru yang bisa mengajar di sekolah swasta tersebut karena kurangnya guru di daerah. Selalu ada alasan kuat untuk melakukan praktek tersebut. Apa yang hendak Anda katakan untuk menghentikan praktek ini jika alasan yang diberikan adalah alasan perut dan demi ‘kemanusiaan’? Tak ada kepala daerah, apalagi kepala sekolah, yang berani bersikap tegas dalam hal ini karena ia akan dianggap tidak berprikemanusiaan alias ‘raja tega’ terhadap guru yang terlanjut dianggap bergaji rendah dan ‘tidak manusiawi’. Situasi ini nampaknya benar-benar dimanfaatkan oleh para guru untuk kepentingan pribadi mereka, meski sebenarnya mereka juga paham bahwa kondisi seperti inilah yang sebenarnya membuat kualitas pendidikan di negara kita semakin lama semakin merosot dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Kita mengalahkan sebuah kepentingan nasional, kepentingan bangsa dan negara, demi kepentingan perut yang tidak jelas argumentasinya. Sampoerna Foundation yang memiliki program peningkatan kualitas sekolah di berbagai di daerah menghadapi kesulitan dengan praktek ‘guru tetap dengan jam kerja tidak tetap’ ini. Bagaimana mungkin kita bisa menjadikan sebuah sekolah menjadi sebuah sekolah yang berkualitas dan setara dengan sekolah-sekolah berkualitas di negara-negara lain jika gurunya saja tidak dapat berkomitmen untuk benar-benar mencurahkan waktu dan kompetensinya kepada sekolah dimana ia mengajar? Sedangkan dengan mengerahkan semua waktu dan kapasitas kita untuk benar-benar berdedikasi ke sekolah kita mengajar saja belum tentu kita bisa bersaing dengan sekolah di negara lain yang sudah maju, apalagi dengan pola kerja yang ‘part timer’ seperti itu. Bahkan banyak guru engganmenyisihkan waktunya untuk kursus atau pelatihan gratis demi peningkatan profesionalisme mereka. Pola pikir bekerja sesedikit mungkin untuk honor sebesar mugkin telah menjadi virus yang berbahaya pada guru-guru kita. Para kepala daerah dan kepala sekolah pun nampaknya tidak berdaya dengan praktek yang telah berlangsung lama ini. Di Malaysia dan Singapura, semua pekerjaan tambahan di luar tugasmengajar tidak memberikan privilege bagi guru untuk pulang ke rumah dan mengerjakannya di rumah. Guru harus tetap berada di sekolah dan melakukan itu semua di sekolah. Jadi tidak boleh pulang lebih awal dengan alasan ‘lebih nyaman membuat persiapan di rumah. Soalnya disambi masak dan mengerjakan tugas rumah tangga lain’, umpamanya. Guru harus tetap berada di sekolah sampai jam kerja habis dan kalau mau mengerjakan tugas sekolah secara ekstra di rumah ya silakan. Guru bekerja secara penuh waktu di sekolah dan mengerjakan tugas-tugasnya di sekolah. Mau membuat lesson plan di sekolah, mengoreksi PR siswa ya di sekolah, membuat portofolio ya di sekolah. Pokoknya tidak ada alasan untuk pulang ke rumah lebih awal dari ketentuan jam kerja dengan alasan mengerjakan tugas sekolah.”It’s unprofessional’, kata mereka. Memang profesionalisme itulah yang tidak kita miliki di dunia pendidikan dan membuat kualitas pendidikan kita menjadi terus merosot dari tahun ke tahun. (Nilai UNAS yang naik dari tahun ke tahun tolong jangan dipakai sebagai patokan dalam menilai profesionalisme guru. “Kagak ade hubungannye.”) Dan itulah yang sedang diusahakan dengan dibuatnya UU Guru dan Dosen. Suatu tantangan yang sangat berat mengingat para guru justru tidak paham dengan tujuan dan tuntutan dari UU tersebut dan mengira bahwa tunjangan dan kesejahteraan bagi guru otomatis akan mereka peroleh begitu persyaratan formal seperti yang tertera dalam UU tesebut dapat mereka penuhi. Bagaimana dengan profesionalisme?Mudah-mudahan jawabannya bukan “Kagak ade hubungannye.”
Balikpapan, 20 Oktober 2006 ( Oleh : Satria Dharma)

12 komentar

  1. Prihatin…..
    Kapan ya kondisi guru bisa bener-bener melaksanakan tugasnya dengan full konsentrasi pada tugas, kusyu dengan pekerjaan, tidak harus mikirin hal-hal lain saat kerja… tapi bener2 mencurahkan pikiran, tenaga, waktu ke tugas pokoknya??
    Sertifikasi?
    Mudah-mudahan berimbas pada peningkatan kinerja.
    Semoga.


  2. Betul…., dan itu tidak cuma terjadi di sekolah negeri. Di sekloah swasta pun sama. Guru Tetap Yasayas justru cenderung kurang produktif dibanding GTT.
    Dan… saya pikir itu bukan salah orang per orang, tapi sistem yang memungkinkan kita seperti itu.
    Pak Ut, berani mencoba untuk menujua idealisme itu……
    Saya dukung……
    msigidhrd.wordpress.com


  3. yaaach mau gimana lagi. tapi yang pasti saya melihat dari sisi teknologi informasi, guru yang pulang waktu siswa pulang, guru libur waktu siswa libur, adalah guru-guru yang kurang dalam basis teknologi informasinya. maju terus jip kendal………….. MERDEKA………..


  4. Buat saya hal sepeti itu tidak bisa menyalahkan siapa-siapa mengapa?, karena itulah mental orang-orang Indonesia yang diatas dan yang dibawah sama maunya enaknya aja “instan” perbandingan yang betul-betul manusia Indonesia seutuhnya hanya 1,5% dari ratusan juta manusia Indonesia seluruhnya, dan hal seperti itu terjadi bukan hanya guru negeri apalagi guru swasta, termasuk PNS yang lain (jam kerja 09.30 ada di mall di warteg, pingpong dll).
    Marilah kita sama-sama instropeksi diri jangan saling menyalahkan apalagi hanya menyoroti satu profesi. Kibarkan bendera kewajiban bukan semata-mata mencari ketenaran dan gelar pahlawan. Marilah kita membangun Indonesia seutuhnya agar Indonesia tidak dilecehkan oleh negara lain dalam segala bidang, Thank’s.


  5. Saya tidak menyangkal adanya praktek semacam itu di sebagian besar sekolah. Tapi jangan katakan semua begitu. Setidaknya SMA Negeri tempat saya bekerja tidak begitu. Kami jam 7 harus sudah di sekolah dan pulang setidaknya jam 2. Diatas jam kerja itu kami masih seringkali harus rapat atau memberi kelas tambahan atau membimbing kegiatan ekstra. Dan pulang jam 4, bahkan jam 5. Kalau anda iri dengan guru2 yang nampaknya jam kerjanya lebih sedikit dibanding PNS biasa, seharusnya iri juga dengan fakta berikut: di saat PNS biasa bisa pulang tanpa membawa pekerjaan sekolah, bisa menikmati betul saat2 bersama keluarga, guru2 justru masih harus menyisihkan waktunya (yang berarti merampas waktu untuk keluarga) guna membuat persiapan mengajar atau ngoreksi tugas/ulangan. Lembur hampir tiap malam disaat PNS biasa bisa tidur pulas atau nonton TV atau jalan2 dengan keluarga. Juga, jika orangtua habis waktu di sekolah, kapan waktu untuk mendidik putra putrinya? Tidak prihatinkah anda jika mereka yang jelas2 generasi muda itu tumbuh diluar yang seharusnya gara2 kurang perhatian dan pengarahan dari orangtuanya? Memintarkan anak orang tapi anak sendiri terlantar. Apa gunanya? Toh dalam jangka panjang negeri ini akan tetap terpuruk karena generasi mudanya tak cukup mendapat perhatian dan didikan dari orangtuanya akibat habis waktunya di tempat kerja. Di rumah sudah capek dan tak sempat mendampingi mereka. Maka yang baik menurut saya adalah hidup seimbang. Memberikan yang terbaik bagi siswa tidak harus dengan cara mengikat guru seperti itu, karena guru juga perlu memperluas wawasannya atau melihat perkembangan di masyarakat untuk kemudian disampaikan dan dibahas di kelas bersama anak-anak untuk menambah wawasan mereka dan mengarahkan pola pikir mereka. Lagipula, sekalipun guru stand by di sekolah dari jam 7 sampai jam 4, kesempatan bertemu siswa di luar jam mengajarnya ya hanya pada jam istirahat. Karena siswa kan ada pelajaran lain bersama guru lain. Menurut saya sich, yang namanya profesional itu lebih terletak pada tanggungjawabnya yang terselesaikan dengan baik atau tidak. Tidak terlalu masalah tugas2nya diselesaikan di mana, yang penting selesai tepat waktu dengan kualitas yang memuaskan. Kecuali mengajar, tentu gak bisa di laksanakan di mana saja. Kalau kenyataannya bekerja di rumah lebih efektif bagi si guru, tidak tergoda untuk ngerumpi dengan guru2 lain, sehingga pekerjaan bisa rampung lebih cepat, mengapa tidak?
    Tapi saya juga kurang setuju jika guru hanya hadir pada saat mengajar. Setidaknya ia harus hadir beberapa jam sebelum dan sesudah mengajar agar tetap ada waktu untuk interaksi dengan siswa, teman sejawat, dan pimpinan atau karyawan sekolah. Juga untuk menyelesaikan urusan2 yang memang bisanya dirampungkan di sekolah.
    Jadi, tolong lihat juga kesibukan guru yang masih sering lembur ngurusi pekerjaan sekolah walaupun seharusnya itu sudah waktu untuk keluarga…. sebelum anda mengekspresikan rasa iri anda secara menggebu-gebu. Terima kasih


  6. Guru Sekarang banyak orientasinya hanya uang dan selalu mengeluh gajinya kecil pada hal dana boss semuanya untu honor guru saja apa lagi pemda sekarang sudah menyediakan pula dana untuk kepentingan sekolah mereka tinggal mengajar dengan baik saja dan mencari cara bagaimana anak pintar sekolah eh malah kalau anak kurang mampu kadang-kadang kurang diperhatikan pendidik macam apa itu tapi ada juga guru yang mengajar sungguh sungguh kepada yang mengajar sungguh sungguh kita ucapkan terima kasih semoga tuhan memberikan berkah


  7. wah hebat tulisannya,bahan introspeksi diri untuk semua,memang bulan tak prnah kita lihat belakangnya,kl dprhatikan lbh dekat tak semulus putih kala purnama dr jauh,guru/dosen punya tridarma,pngajaran,pngabdian masyarakat,pnelitian,jd jam dikelas hanya 1/3, bs saja ada guru mngajar dtempt lain dlm rangka pngabdian ato pnlitian,sapa tau hehe,husnudzan,suudzanya pikiran perut sudah mengelabui guru2/dosen kita,,,,,


  8. Anda salah besar kalau iri dgn guru yang sudah melaksanakan tugas pada jam2 mengajarnya. yang seharusnya meresahkan anda atau kita semua bukannya guru yang telah melaksakan kewajibannya, karena guru memang di gaji dengan memperhitungkan jam mengajar. Akan tetapi guru-guru yang tidak melaksanakn tugas mengajar, membiarkan jam-jam kosong, ada yang hanya memberi tugas, atau bahkan tidak sama sekali. ironisnya hal ini juga banyak dilakukan oleh guru yang sudah mendapat tunjangan sertifikasi. Tidak melaksanakan tugas sama sekali juga terjadi di instansi lain, bahkan keluhan yg sy dengar, krn gaji sudah habis, mereka tdk mau lagi bekerja, celakannya tugas mereka akhirnya menjadi beban tugas teman lainnya. Sebagai pendidik dan orang beriman, sy mlh ingin mengusulkan pd pemerintah, agar terutama wanita, mendapat prioritas khusus dlm karier. Wanita seharusnya lebih banyak waktu di rumah daripd di luar,krn anak2 dan kluarga membutuhkan kehadiran mrk. keberhasilan pendidikan bukan melulu harus pintar akademik, tapi jg sehat jiwanya. Anak yg tdk banyk mendapat dampingan dari orang tua terutama ibu, bisa rapuh jiwanya. Kt orang timur yang berkeTuhanan YME, wanita yg terlalu banyk di luar rumah membuat rentan trjadinya perselingkuhan. Bagi wanita, bekerja bukan hanya di kantor, bekerja di rumah mendidik anak agar menjadi anak yang bermanfaat untuk diri dan lingkungan, justru merupakan sumbangan tenaga yg tak ternilai bg bangsa dan negara. Bayangkan, jika tetangga anda dpt mendidik anaknya menjadi anak yang santun dan berperilaku mulia, bukankah bukan keluarganya saja yg senang, anda dan masyarakat sekitar jg merasakan imbasnya krn hidup tenang tanpa terganggu oleh perilaku orang lain. Kalau dididik salah, jadi preman, dst, bukankah imbasnya juga untuk bgs dan negara pula ? Nah, bagi wanita, bkrj harus seimbang antara materi dan kluarga. Kalau sj aku jd presiden, ibu rmh tanggapun yg telah terbukti dpt mendidik anak2-nya menjadi generasi yg membuat aman dan tenteram kehidupan berbangsa dan bernegara…aku gaji, bahkan…aku beri pensiun…agar bnyk wanita tdk mengejar karier di luar rmh, tp mementingkan perkembangan calon-calon manusia yg bertanggung jwb atas kelangsungan hdp berbangsa dan bernegara…


  9. Guru di indonesia cuma tukang demo.. tidak mampu memberikan pendidikan dengan baik bagi murid.. selalu menuntut gaji tinggi tapi kualitas sangat sangat rendah.. gurunya rusak murid rusak negara ikut rusak…


  10. guru mestinya digugu dan ditiru


  11. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Sudah pasti itu pendapat yang dilontarkan oleh orang yang bukan “guru” (dalam arti yang sesungguhnya maupun arti yang umum), apapun yang terjadi dengan guru selalu saja disorot (dengan kacamatanya sendiri tentunya). Saya hanya ingin meluruskan sedikit hal saja.

    – Guru merupakan PNS petugas fungsional (bukan struktural) yang bertanggungjawab (atas pekerjaannya) kepada atasan (SK Menpan no.25 Th. 1995). Sebagai petugas fungsional (seperti halnya dosen,perawat, dokter dsb) mereka tidak menggunakanjam jam kerja sebagaimana petugas struktural (jam 07.00 s.d. jam 14.00 tanpa istirahat atau s.d. jam 15.30 dengan istirahat siang).

    – Guru bekerja dengan standar beban kerja yang jelas yaitu 24 jam pelajaran setiap minggu, itu saja baru yang berupa jam tatap muka, belum termasuk Administrasi perangkat pembelajaran yang berupa Program Tahunan, Program Semester maupun perencanaan per tatap muka (RPP).Serta Evaluasi, analisis evaluasi, remidi/pengayaan sampai penulisan rapor (yang tidak ada uang lemburnya).

    – 24 jam tatap muka per minggu adalah wajib dan pasti (tidak bisa ditunda sebagaimana pekerjaan di belakang meja lainnya).

    – Karena wajib maka apabila guru tidak memenuhi 24 jam tatap muka di tempatnya mengajar (walaupun tempat tugas tersebut sudah sesuai SK-nya), guru wajib memenuhinya di sekolah lain hingga memenuhi 24 jam tatap muka (tanpa tambahan transport maupun uang saku lainnya).

    Itu baru sedikit hal yang berkaitan dengan pekerjaan guru, belum yang berhubungan dengan tanggungjawab moral dimana sebagai guru harus menempatkan diri ditengah masyarakat sesuai dengan posisinya.

    Perlu diketahui juga, bahwa pekerjaan guru tidak hanya mengajar, dari jam 07.00 pagi kami sudah menangani anak-anak yang bukan sekedar kertas tapi benda hidup yang harus dididik dan selalu dimonitor oleh orang tuanya. Itu belum termasuk tugas diluar pekerjaanya sebagai guru, misalnya merangkap bendahara (ngurusi uang), memelihara sarana dan prasarana sekolah, kadang juga urusan ketatausahaan, Pramuka, Lomba-lomba dan lain-lain.

    Ganti pejabat ganti sistem saja sudah cukup membuat kerepotan Guru, sistem selalu berubah-ubah, menterinya ganti kurikulum juga ikut dirombak habis-habisan. padahal yang dihadapi guru adalah tetap yaitu anak-anak manusia generasi penerus bangsa yang mestinya tidak bisa buat sekedar coba-coba.

    Sekali lagi ini bukan sekedar membela diri, tapi fakta yang kadang-kadang tidak diperhatikan oleh para penentu kebijakan.

    Saran kami, kalau mengemukakan pendapat sebaiknya benar-benar diambil dari sumber informasi yang mewakili banyak pihak, bukan sekedar kata saudara saya atau kata teman saya saja.

    Tapi apapun pendapat anda, tetap saja merupakan masukan bagi kami, terima kasih, semoga hal tersebut menjadi pelajaran untuk menjadikan kami lebih baik sebagaimana harapan semua pihak, semoga pula pendidikan di Indonesia semakin tertata rapi menghasilkan generasi penerus yang menjunjung tinggi nama bangsa, bebudi luhur, berguna bagi Agama, Negara dan Bangsanya.

    Wassalam. Wr. Wb.


  12. Guru adalah amanah yang harus disampaikan kepada murid dari yang tidak tahu menjadi tahu,apabila guru itu tidak bisa menyampaikan amanah dengan aturan yang sudah ditetapkan oleh mentri pendidikan berarti bukanlah seorang guru dasar sekolahnya.ada yang dasar sekolahnya guru yang didik selama 3 tahun disamakan saja dengan slta.dasar sma mjadi guru kliah di ut langsung profesi guru apa jadinya indonesia



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: