h1

Beberapa Kelemahan Guru Dalam Mengajar

November 28, 2007

Tulisan ini bukan merupakan kesimpulan atas kinerja guru secara umum, tetapi hanyalah merupakan temuan penulis selama melaksanakan supervisi kunjungan kelas pada beberapa sekolah yang menjadi binaan penulis ditambah dengan pengamatan penulis pada saat mengikuti kegiatan lesson study MGMP Bahasa Inggris beberapa waktu yang lalu. Sengaja diberi judul demikian karena yang akan dipaparkan adalah kelemahan-kelemahan yang nyata ditemukan penulis. Hal ini dimaksudkan agar bisa menjadi input bagi para guru untuk memperbaiki kegiatan pembelajarannya.
Dari pengamatan penulis terhadap kegiatan pembelajaran di kelas dapat dikemukakan beberapa kelemahan antara lain :
1. Guru tidak menggunakan RPP sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran
RPP adalah skenario pembelajaran yang dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam dokumen tersebut tidak hanya berisi kompetensi apa yang akan dicapai tetapi juga memuat secara rinci berapa lama waktu tatap muka dilakukan. Bahkan dirinci pula berapa menit kegiatan awal untuk melaksanakan kegiatan rutin, apersepsi dan penjajagan untuk mengenal bekal awal siswa. Waktu yang digunakan untuk kegiatan inti, dan rincian waktu untuk kegiatan akhir.
Dalam RPP juga tercantum secara jelas alat bantu mengajar apa yang diperlukan dan sumber belajar apa yang digunakan. Demikian pula di dalam RPP juga telah dicantumkan rencana kegiatan penilaian yang merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik keberhasilan guru dalam mengajar.
Kenyataannya RPP tidak difungsikan, bahkan ada guru yang mengajar tanpa bertpedoman pada RPP. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak terarah.

2. Guru tidak mempersiapkan alat bantu mengajar.
Alat bantu mengajar sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, sehingga siswa mengetahui secara nyata melalui benda-benda yang nyata. Dengan alat bantu ini pengetahuan tidak hanya berupa verbal, dan bisa mengatasi kesenjangan komunikasi guru dengan siswa.
Kenyataannya guru tidak membawa alat bantu mengajar sehingga yang dilakukan hanyalah ceramah-dan ceramah saja.
3. Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa.
Pengetahuan ten tang kemampuan awal siswa diperlukan oleh guru untuk menetapkan strategi mengajar, bahkan untuk mengajukan pertanyaanpun diperlukan pemahaman tentang kemampuan awal siswa. Dengan memahami kemampuan awal siswa ini guru dapat membantu siswa memperlancar proses pe,mbelajaran yang dilkukan dan memperkecil peluang kesulitan yang dihadapi siswa. Adakalanya satu materi tertentu memerlukan prasarat pengetahuan sebelumnya. Jika pengetahuan prasyarat ini belum dikuasi dan guru sudah melanjutkan pada materi berikutnya bisa dipastikan bahwa siswa akan kesultan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa dideteksi melalui perilaku siswa. Siswa yang tidak dapat mengikuti materi yangs edang dibahas oleh guru cenderung berperilaku “menyimpang” seperti: melamun, menulis atau menggambar yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, berbicara sendiri atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak terkait dengan isi pembelajaran.
4. Penggunaan papan tulis yang kurang tepat
pada umumnya guru langsung memulai pelajaran tanpa menuliskan Pokok persoalan yang akan dibahas dan tujuan pembelajarannya. Penulisan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran ini bergna sebagai kontrol bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tidak keluar dari jalur. Kecenderungan lainnya adalah penggunaan papan tulis yang kaacau. Siswa tidak tahu apa sebenarnya yang dibahas, dan untuk apa hal itu dibahas. Guru terlalu sibuk menulis dan membuat ilustrasi di papan tulis yang kadang-kadang sulit ditangkap siswa dan tidak disimpulkan.
5. Tidak melaksanakan evaluasi
Dengan alasan kekurangan waktu seringkali guru tidak melaksanakan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi ini bertguna bagi guru untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pembelajaran yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir kegiatan /bahasan akan bisa mendeteksi siswa mana yang masih kesulitas dan pada bagian apa siswa merasa sulit. Hal ini akan sangat berguna bagi guru dalam membantu siswa
Apabila 5 macam kelemahan guru ini dapat diperbaiki, maka peoses pembelajaran akan menjadi lebih bermutu dan muaranya nanti pada hasil belajar yang lebih baik. Perubahan pada kelima kelemahan tersebut tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa. Kepala sekolah dapat berperan dalam perbaikan proses pembelajaran ini dengan cara lebih sering melaksanakan supervisi kunjungan kelas.

8 komentar

  1. Assalamualaikum wr. wb.
    Mensikapi tentang kinerja guru, barangkali seperti mengurai benang kusut dari salah satu faktor kunci keberhasilan pendidikan. Barangkali perlu dicermati juga, bahwa apa yang telah ditulis dalam artikel di atas merupakan sebuah realita produk atau memang sebuah kondisional yang muncul sebagai sebuah perilaku negatif yang memang tidak diketahui oleh yang bersangkutan. Telahkan ditilik bahwa pada kenyataan yang ada bahwa guru sebagai ujung tombak pendidikan yang “katanya” merupakan salah satu pilar kemajuan ini diminati oleh input pendidik di jenjang perguruan tingginya. Kemudian proses yang terjadi di LPTK (lembaga pendidikan tenaga kependidikan) telah berperan dengan benar sehingga output yang dihasilkan tidak hanya memiliki pengetahuan pendidikan saja, tetapi juga memiliki kompetensi keguruan yang diisyaratkan.
    BTW, tanpa mencoba mencari kambing hitam dari sebuah persamasalahan, dan tanpa bermaksud memberikan pembenaran terhadap kenyataan yang benar terhadap realitas tersebut di atas, barangkali perlu juga di kaji tanggapan berikut :
    1. RPP,
    Ada kesan dan memang pada kenyataan, RPP yang ada hanyalah sebuah formalitas administrasi yang harus dihadapi oleh seorang guru, andaikanpun guru memiliki perangkat pengajaran, jarang sekali perangkat ini menjadi acuan bagi proses pembelajaran yang ada. benang merahnya barangkalai adalah bentuk/format yang diprasyaratkan sekarang ini, sudahkan sesuai dengan keinginan guru dalam penggunaan praktisnya. Pada kenyataan yang muncul, RPP, Silabus, dan perangkat pengajaran yang lain lebih banyak berisi kata-kata yang ditulis/diketik beulang-ulang, tanpa bisa dimankai dengan benar oleh guru yang bersangkuta. Kenapa tidak, segala perangkat itu dibuat sedemikian ringkas, sehingga guru dalam penyiapannya tidak merasa terbebani dengan administrasi “ritual” seperti itu. Tapi lebih terkonsentrasi pada proses pembelajaran yang sebenarnya lebih membutuhkan pemikiran.
    2. Alat bantu Mengajar,
    Kata paling tepat untuk mengomentari ini barangkali adalah “Amin”.
    Yup…, guru memang pada kenyataanya sangat sulit untuk mempersiapkan alat bantu pengajaran, karena pada kenyataanya cukup dengan chalk and talk saja, toh proses belajar sudah dapat berjalan dengan “baik”. Dan itupula-kan yang selama ini diajarkan dan dialami oleh guru ketika mereka masih sekolah dulu. Bukan buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, bagaimana gurunya mengajar, demikian jugalah kebiasaan dalam mengajar sampai sekarang, apalagi hal itu dirasa lebih nyaman,tanpa persiapan, tanpa modal dan tanpa pemikiran. Kata kucni yang arangkali dapat dimunculkan dari fenomena ini adalah dorongan/suport dari semua lini pendidikan, sehingga guru dalam mengajar dapat memberikan inovasi dan pembaharuannya, termasuk dalam menyiapkan media pembelajaran. Selama ini kondisi di sekolah, memang pada awal tahun pelajaran selalu di”woro-woro”kan agar setiap guru memberkan usulan untuk pengadaan alat bantu pengajaran, tapi pada proses pelaksanaannya, pengadaan alat bantu pengajaran bukanlah hal yang sederhana untuk disetujui penganggarannya, apalagi mengharapkan penghargaan terhadap karya media pengajaran yang telah dilakukan oleh guru. Barangkali hanya sedikit sekolah yang peduli pada hal tersebut di atas.
    3. Kemampuan Awal Siswa
    Barangkali ini adalah buntut dari spesialisasi salah kaprah yang selama ini telah diterapkan, pengukuran tentang kemampuan awal siswa selalu dibebankan kepada BP, sementara dari sisi BP hal ini juga kurang tertata dengan baik, pengambilan data tentang kemampuan awal siswa, kalaupun dilakukan itu hanyalah pada saat MOS saja, atau pada waktu Tes IQ yang biasanya dilakukan oleh lembaga lain. Itupun hasil akhirnya tidak pernah disampaikan kepada guru mata pelajaran alhasil, dalam setiap melaksanakan KBM, guru harus meraba-raba dulu kemampuan siswa sebelum memulai proses pembelajarannya, dan itu tentunya akan memakan waktu, sementara tuntutan kurikulum terus membuntuti.
    Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan pengelolaan kelas masing-masing guru yang masih beragam. Guru kurang “mempesona” di depan kelas, sehingga kebetahan siswa dalam proses belajar juga menjadi rendah, sehingga kondisi siswa seperti terseut di atas menjadi hal yang pasti terjadi.
    4. Penggunaan papan Tulis.
    Perlu di sadari bahwa papan tulis hanyalah salah satu media yang dipersiapkan untuk meningkatkan penangkapan visual siswa menjadi lebih baik terhadap proses pembelajara. Barangkali yang perlu dibenahi adalah keberagaman penggunaan media, sehingga kebosanan siswa dalam proses belajar menjadi tereduksi. Kata kunci yang barangkali perlu dimunculkan adalah, papan tulis ini berfungsi hanya sebagai sebuah media aktifitas guru, atau menjadi media interaktif antara guru dan murid. Jika papan tulis atau apaun medianya dapat dimungkinkan bagi interaktifitas pembelajaran, tentunya proses pembelajaran juga akan menjadi lebih efektif.
    5. Evaluasi
    Akur saja dah….
    dah kehabisan kata-kara sih… heheheeee….
    Amin
    Terima kasih pak Ut pencerahannya.
    Semoga bermanfaat juga bagi rekan yang lain.
    Wassalam


  2. Thanks pak Yosi,
    Memang benar RPP masih jadi pelangkap administrasi saja. Tetapi harapannya adalah RPP itu fungsional artinya dibuat untuk dijadikan pedoman bagi guru. Kalau yang dikeluhkan formatnya, silahkanlah di sesuaikan. asal benar-benar bisa jadi acuan dalam PBM. Wong kethoprak dan extra vagansa saja manut skenario kok, apalagi mengajar yang tujuannya mulia.(jangan kalah sama ketoprak ya).
    Tentang alat bantu, silakan pakai yang sederhana, dan yang ada saja. Sambil terus meyakinkan kepala sekolah tentang pentingnya alat bantu ini. Saya kok yakin kalau berkaitan dengan ini para kepala sekolah akan membantu. Yang penting ada dikomunikasikan. Kalau saya lihat sih malah sekolah itu suka belanja, tapi yang susah itu nggak suka memakainya,.. jadi ya boross saja dan ujung-ujungnya pendidikan semakin mahal saja dan tidak terjangkau masyarakat.
    untuk penilaian : ibarat orang itu perlu di cek up terus menerus, semakin sering-semakin baik. Jangan sampai terjadi karena tidak pernah ci cek up tiba-tiba terkena stroke.
    Akhirnya mari kita tinggalkan yang formalitas-formalitas itu. Kita tidak bisa terus menerus menggunakan pendekatan administratif dan formalitas saja. Karena hasilnya nanti (meminjam istilahnya Gus Dur) SEOLAH-OLAH BAIK, SEOLAH-OLAH BERMUTU, SEOLAH-OLAH DISIPLIN, padahal kenyataannya kan tetap saja tidak maju : Bravo guru Indonesia :TINGGALKAN FORTMALITAS RAIH MUTU YANG TINGGI. HORAS!!!


  3. saya menikmati sekali artikel dan tanggapannya
    Nice blog!!


  4. Salam kenal dari guru yang senang utak-atik media pembelajaran interaktif.
    Mengenai alat bantu mengajar kenapa tidak mampir ke blogku

    http://sarwoedi.wordpress.com

    Semoga jadi inspirasi bagi banyak teman guru. aku bisa kenapa Anda Tidak?


  5. bagus sekali masukannya, kendala yang guru hadapi dengan pelaksanaan rpp adalah kelas yang paralel dan kegiatan sekolah yang tidak terduga misalkan rapat dinas yang dilaksanakan dijam pelajaran, acara pejabat diknas di sekolah, libur yang kurang diperhatikan pada saat pembuatan rpp. walaupun ini kendala, sebenarnya ada solusi yaitu kalau sekolah sudah seperti kuliah insyaallah rpp dan silabus akan tercapai.


  6. thanks ya???>>>>>


  7. saya butuh judul skripsi tentang pendidikan SMK Teknik bangunan. tolong kirim ke e_mailku dian_deteksi_o5@yahoo.co.id


  8. saya sangat setuju sekali dengan beberapa kendala tsb.
    dengan demikian dapat mejadi sumber yang bermanfaat bagi diri saya sendiri sebagai calon guru.



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: